Diskusi Lidah Rakyat, Bisnis di Era Digital

Home / Berita / Diskusi Lidah Rakyat, Bisnis di Era Digital

Perkembangan dunia digital tidak bisa terelakkan lagi tidak terkecuali di Indonesia. Memanfaatkan teknologi digital termasuk sosial media dan fasilitas lainnya dapat dan harus dilakukan untuk mengoptimalkan usaha bisnis. Hal tersebut yang dilakukan oleh Preksu, The Ayoyoo, dan Mie Nyinyir dalam menjalankan urusan marketing. Serahkan urusan pada ahlinya, demikianlah yang dilakukan oleh ketiga usaha tersebut dalam memaksimalkan urusan digital marketing.

diskusi lidah rakyat bisnis era digital
Diskusi lidah rakyat bisnis era digital

Pada 23 September 2017 malam telah diadakan diskusi di Kafe Lidah Rakyat. Diskusi yang bertema Tantangan Bisnis di Era Digital ini menghadirkan para pelaku usaha. Fery Atmaja, owner Preksu (ayam geprek dan susu); Robi Adi Wijaya, owner Mie Nyinyir; dan R Susetyo Fajar, owner The Ayoyoo; menjadi narasumber dengan moderator Zaki Yamani, cofounder Kafe LDR. Diskusi yang dikemas dengan santai dimana peserta dapat mengikuti diskusi sembari menyesap sedapnya kopi ijo.

Para narasumber ini bercerita bagaimana awal mereka mendirikan usahanya masing-masing. Bagaimana Tio, panggilan dari R. Susetyo, ketika awal mulanya melihat produk-produk stool yang ada di pasar banyak yang terkesan monoton sehingga ia berinisiatif membuat produk serupa yang lebih menarik. Bagaimana awal mula ia berkeliling Kasongan untuk survei kegiatan produksi yang ada di sana. Usaha yang memiliki workshop di Kasongan ini, selain memiliki karyawan sendiri juga melibatkan pengrajin di sekitar lokasi usaha.

Sama halnya dengan Tio, Robi bercerita bagaimana ia memulai usaha. Untuk memulai usaha Mie Nyinyir ini, ia mengamati bagaimana sebuah warung mie di Jawa Timur begitu ramai dipadati pengunjung. Setelah mengamati, ia memutuskan untuk membuat warung mie juga dengan brand Mie Judes. Setelah berhasil dengan 11 cabang Mie Judes di Jawa Timur, ia akhirnya membuka dua cabang di Jogja dengan brand Mie Nyinyir. Di penghujung 2017 ini, Mie Nyinyir menargetkan dapat membuka tiga cabang lagi di Jogja yang kemudian di 2018 dapat melebarkan sayap ke area Jawa Tengah.

Fery memulai penjelasannya dengan shalawat dan nasehat atas taqwa kepada Allah. Ia menyampaikan bahwa dalam berbisnis, ia menggunakan dua jenis marketing yaitu marketing langit dan marketing bumi. Ia menyampaikan bahwa ada yang lebih penting dari semua urusan bisnis yaitu bagaimana bisnis ini barakah dan diridhai Allah. Salah satu pengurus KPMI (Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia) korwil Jogja ini bercerita bagaimana memulai usaha Ayam Preksu pada posisi bangkrut dari usaha yang lama. Dari kebangkrutan tersebut, justru ia bisa bangkit dengan niat yang baru, mencari keridhaan Allah. Banyak program promosi, kuis, dan produk gratis yang dibagikan oleh ayam Preksu kepada konsumennya. Berbagi produk secara gratis yang diniatkan untuk shadaqah adalah agenda rutin yang dilakukan. Menghentikan usaha di jam shalat juga diniatkan untuk keberkahan.

Dalam berbisnis, sadar akan produk dan mengetahui siapa pasar yang dituju sangatlah penting. Dengan melihat siapa pangsa pasar yang disasar, maka kita bisa tahu strategi dan metode marketing yang dilakukan. Berbeda dengan Jogja yang mana pasar lebih dekat dengan instagram, di Jawa Timur facebook lebih efektif digunakan. Berbeda dengan pasar The Ayoyoo yang menyasar konsumen kelas atas dengan rumah yang menarik, Mie Nyinyir lebih bermain pada kalangan anak sekolah. Ketika Mie Nyinyir dan Ayam Preksu lebih banyak bermain pada instagram dengan pemanfaatan foodgram, The Ayoyoo selain instagram juga memanfaatkan platform marketing semisal blibli dan lazada.

Diskusi ini merupakan agenda yang diadakan oleh Kafe Lidah Rakyat dan akan rutin dilakukan dengan topik serta narasumber yang berbeda. LDR tidak hanya menyajikan bagaimana hanya tempat ngopi di jogja malam hari yang murah, tetapi juga bagaimana kita menambah ilmu dari para praktisi atau pun akademisi. Ikuti perkembangan sosial media dan berita di laman ini untuk mengetahui agenda berikutnya.

One Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *