Mudik Produktif Bersama Bumdes

Home / desa / Mudik Produktif Bersama Bumdes

Entah mengapa fenomena pulang kampung (mudik) selalu menarik diikuti, betapa tidak hingar bingar arus mudik dan arus balik diperkirakan akan memobilisasi masyarakat kota pulang ke desa dalam skala besar, tahun 2016 saja pergerakan arus mudik mencapai angka 17,6 juta yang menggunakan moda transportasi umum, sedang pemudik yang menggunakan roda dua mencapai 2,4 juta berikutnya pemudik dengan roda empat mencapai 5,6 juta (Data Kemenhub, 2016). Mudik secara sederhana mungkin bisa jadi diartikan aktivitas bersilaturahim dengan keluarga besar di kampung halaman, namun lebih jauh sangat mungkin diistilahkan sebagai “safari batiniyah”, atau bisa diartikan sebagai suatu perjalanan yang sarat makna dan ibadah di dalamnya.

Mudik produktif bersama BUMdes Desa1

Memaknai lebih soal hajatan tahunan bernama mudik memang menjadi sebuah keharusan, hal ini penting agar tradisi mudik semakin memperkaya makna disatu sisi, namun disaat yang sama ikut membantu mengakselerasi pertumbuhan ekonomi masyarakat di pedesaan disisi yang lain. Bank Indonesia (BI) mencatat terjadi distribusi dana dari kota ke desa sebesar 160,4 Triliun ditahun 2016, sugguh nilai yang menggembirakan, karena secara tidak sadar pemerataan ekonomi terjadi secara besar-besaran walau meski hanya sementara (temporary). Berangkat dari potensi pemerataan pembangunan berlatar belakang mudik inilah, menarik jika melihat aktivitas mudik ke kampung halaman tahun ini diisi juga dengan mengenal BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) sebagai cikal bakal penyangga ekonomi berbasis lokal desa. Transformasi pengetahuan akan BUMDes harus menjadi prioritas ditengah masyarakat agar bukan hanya elit desa belaka yang memahaminya. Maka sabagai bentuk kampanye terus menerus dan suksesi BUMDes maka sangat perlu untuk mengulas lebih mendalam apa itu BUMDes dan seberapa vital kehadiran BUMDes untuk mengakselerasi kemajuan ekonomi desa.

Penulis mencoba menghitung potensi perputaran jika saja jumlah desa di Indonesia mencapai sekitar 74.000-an, dengan asumsi omset BUMDes 5 juta saja per bulan, berarti berkisar 60 juta /tahun, maka kalkulasi perputaran uangnya di Indonesia mencapai 4,5 Triliun, sungguh nilai optimistis yang cukup mampu menyulut produktivitas masyarakat Desa melalui Bumdes.

Baca Juga: Bagaimana pemuda memanfaatkan sosial media untuk berbisnis

Tantangan

Pararel dengan BUMDes, lahirnya UU No 6 Tahun 2014 jelas merupakan kabar baik, mengapa demikian? Tentu jawabanya karena desa kini mempunyai kewenangan penuh untuk mempersiapkan perencanaan sendiri (self planning) yang sesuai dengan konteks lokal (tipologi) sesuai desanya masing-masing, sekaligus memiliki kepastian anggaran dari dana perimbangan pusat daerah. Ditinjau dari tipologi, tentu akan berpengaruh pada aspek pemahaman masyarakatnya dan imbasnya adalah pada bentuk-bentuk improvisasi sumberdaya manusianya. Jangan sampai ada ungkapan yang mengatakan orang desa terbelakang, sebab sejatinya mereka punya rasionalitasnya sendiri.

Point pentingnya adalah bagaimana BUMDes mampu menjembatani serta mendorong imajinasi masyarakat desa untuk lebih maju. Hal penting lainya adalah meyakinkan masyarakat desa bahwa dengan adanya BUMDes rasa percaya diri masyarakat desa lebih meningkat. Dan hal itu bisa dilakukan bersamaan dengan momentum mudik, karena terjadi pergerakan manusia dalam jumlah besar ke kampung halaman (bisa jadi ke desa), tentu ini menjadi peluang untuk lebih mempopulerkan produk-produk yang diproduksi bumdes disuatu desa. Ritus mudik memang menjadi ajang pertemuan arus relasi urban rural secara besar-besaran, meski sulit untuk mengatakan akan terjadi dampak (impact) yang nyata dari hasil pertemuan relasi tersebut, setidaknya dengan rutinitas tahunan bernama mudik mampu menjadi pemicu (trigger) semakin populernya produk BUMDes di Masyarakat.

Paling tidak ada tiga (3) hal yang bisa dilakukan, Pertama mencoba mengenal dan mengenalkan BUMDes kepada keluarga kita, minimal mampu mengupgrade pengetahuan akan BUMDes. Kedua berbagi pengetahuan serta pengalaman dengan pengelola BUMDes, baik menyangkut riset pasar, product discovery, product design hingga product evaluation. Dengan distribusi pengetahuan secara dua arah dan dilakukan terus menerus, peluang berbasis potensi lokal desa akan selalu bisa di munculkan dan dimaksimalkan. Ketiga dengan membeli poduk-produk hasil olahan BUMDes sebagai buah tangan pulang kembali ke kota.

Sepintas terkesan sederhana, namun ternayat memiliki dampak yang strategis untuk BUMDes, karena dengan upaya itu maka akses pasar produk-produk BUMDes akan lebih mudah dikenal. Patut diakui memang perkembangan teknologi informasi menjadikan strategi marketing lebih berkembang dan mampu menjangkau pasar dengan begitu mudah, namun yang perlu diingat strategi word of mouth tetap masih menjadi kekuatan brand yang cukup handal. Sekaligus upaya penegasan bahwa ukuran usaha dikatakan modern bukan seberapa besar aksentuasi teknologi informasinya melainkan sejauh mana BUMDes memainkan perannya sebagai katalis kemajuan ekonomi desa berikut juga sebagai perekat sosial budaya masyarakat desa. Dengan begitu niat menjadikan desa sebagai teras depan dan tidak lagi sebagai halaman belakang Negara, mungkin bisa terwujud.

Wallahua’lam Bissowaab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *