Pemuda dan Ekonomi Desa

Home / desa / Pemuda dan Ekonomi Desa

Persoalan yang dihadapi kota belakangan kian ruwet saja. Belum selesai dengan masalah tingginya angka pengangguran, kini beban perkotaan semakin bertambah dengan adanya fenomena urbanisasi besar-besaran pasca lebaran, yang sudah menjadi rutinitas setiap tahunya, budaya tahunan ini sama persis polanya dengan tahun sebelumnya biasanya akan terjadi ledakan pendatang dari desa ke kota usai lebaran, hanya saja soal jumlahnya yang berbeda, maka yang terjadi adalah kota dengan segala keruwetanya menjadi semakin penuh sesak.

Baca juga bagaimana para pemuda ini berbisnis dengan mengoptimalkan media sosial.

Sisi lain dari segala problematika kota, tampak sekali kota masih begitu menggiurkan banyak orang karena dianggap menjanjikan obat bagi berbagai jenis kesulitan ekonomi. Bisa jadi ini disebabkan karena efek ritus mudik,yang belakangan acapkali menampilkan model yang dulunya orang desa berubah menjadi orang kaya dengan segala gemerlap capaian keberhasilan ekonominya dikota. Dengan demikian orang desa akan berlomba lomba jadi orang kota.

Kondisi demikian jika terjadi terus-menerus tentu akan memiliki implikasi luar biasa bagi perekonomian Negara, utamanya soal kesenjangan antara desa dan kota yang semakin tinggi karena desa akan semakin ditinggalkan. Hal ini selaras dengan semakin menurunya angka partisipasi pemuda desa dalam membangun sektor pertanian desa, ataupun beragam sumber potensial ekonomi desa lainya seperti halnya sektor perikanan, pariwisata, serta sektor ekonomi kreatif skala desa.

Data BPS Jawa Tengah Tahun 2017 misalnya, mencatat ada 7.808 Desa Di Jateng, ini artinya hampir sekitar 11% dari jumlah Desa secara nasional berada di wilayah Jawa Tengah. Tentu saja itu punya peluang yang besar, pemerataan pembangunan infrastruktur belakangan ini tentu adalah salah satu upaya pemerintah menjadikan pembangunan kota dan desa inline untuk berdenyut bersamaan. Namun yang tidak boleh dilupakan adalah upaya meyakinkan masyarakat desa dengan keseriusan pemerintah dalam mengajak partisipasi aktif masyarakat desa membangun desanya masing-masing agar lebih mandiri secara ekonomi, sosial maupun budaya. Jauh lebih baik jika pemerintah menggandeng serta memberi porsi partisipasi lebih besar kepada pemuda desa sebagai duta pembangunan desa, sebagai keberpihakan nyata kepada pemuda.

Rasanya tidak berlebihan jika pemuda menjadi asset penting Bangsa ini, sejarah pun mengamini bahwa arsitektur berdirinya Negara ini lahir berkat pemikiran serta keringat pemuda. Layak kita renungkan apa yang dikatakan sejarawan Anhar Gonggong, “bahwa pemuda masa kemerdekaan adalah mereka yang terdidik dan tercerahkan, maka wajar yang muncul kala itu adalah “pemimpin” yang bergerak maju, oleh sebab itu gerakan revolusi mental sebetulnya bukan barang baru, mestinya prinsip ini yang perlu dikampanyekan terus-menerus. Ditengah dunia yang serba digital saat ini, tentu merupakan tantangan tersendiri, manakala semua bentuk peluang berbanding lurus dengan meluasnya ragam potensi kenakalan pemuda berlabel trend. Langkah antisipasi dengan memberi ruang angka keikutsertaan pemuda dalam pembangunan harus segera di ambil, sebab pemuda sejatinya juga punya hak perlindungan, khususnya dari pengaruh destruktif

Di saat bersamaan, Lahirnya UU No 6 Tahun 2014 jelas merupakan kabar baik bagi masyarakat desa pada umumnya, dan pemuda desa khususnya, mengapa demikian? Tentu jawabanya karena desa kini mempunyai kewenangan penuh untuk mempersiapkan perencanaan sendiri (self planning) yang sesuai dengan konteks lokal (tipologi) sesuai desanya masing-masing, sekaligus memiliki kepastian anggaran dari dana perimbangan pusat daerah. Ditinjau dari tipologi, tentu akan berpengaruh pada aspek pemahaman masyarakatnya dan imbasnya adalah pada bentuk-bentuk improvisasi sumberdaya manusianya. Jangan sampai ada ungkapan yang mengatakan masyarakat desa terbelakang, sebab sejatinya mereka punya rasionalitasnya sendiri dalam memaknai pembangunan. Dengan adanya amanat UU tentang Desa, maka sejatinya pemerintah sedang mengajak pemuda-pemuda Desa untuk tampil dalam ragam bidang yang bisa dikerjakanya di desa, sebab diantara isi aturan pemerintah tersebut adalah amanat perihal pembentukan dan pengembangan BUMDes, (Badan Usaha Milik Desa).

Rasionalisasi sederhananya adalah jika para pemuda masih saja berfikir merantau ke kota tanpa skill yang spesifik maka jauh lebih disarankan untuk di tetap di Desa saja, dengan melibatkan diri dalam proses program semacam pemberdayaan Desa, dan pemuda mulai ikut membangun usaha-usaha dibawah naungan BUMDes. Telah tertuang dalam misi pemerintah tentang pengembangan ekonomi kreatif Indonesia 2025 yakni peningkatan ekspor nasional dari produk/jasa berbasis kreativitas anak bangsa yang mengusung muatan lokal dengan semangat kontemporer melalui Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF), tentu misi ini akan tercapai jika pemuda mulai tergugah untuk mengeksplorasi potensi Desa nya untuk membangkitkan denyut ekonomi Desa. Point pentingnya adalah bagaimana BUMDes mampu menjembatani serta mendorong imajinasi masyarakat desa untuk lebih berani berinovasi. Hal penting lainya adalah meyakinkan masyarakat desa bahwa dengan hadirnya BUMDes rasa percaya diri masyarakat desa akan jauh lebih meningkat.

Adalah sosok Dwi Nugroho, pemuda asal Purbalingga kiranya patut jadi teladan kita bersama, bahwa kekuatan pemuda itu terletak pada kemampuanya dalam mengeola mimpi dan berimajinasi. Dwi terpilih menjadi pemuda pelopor kategori pemuda pelopor pariwisata, sosial budaya dan bela Negara Wilayah Jawa Tengah meski sudah tidak memiliki orang tua kandung (Harian Kompas, Edisi 28/10/2016). Namun berkat jiwa patriotismenya, Dwi dianggap telah mampu mengangkat budaya lokal dan bisa memberdayakan para pemuda serta anak-anak putus sekolah di lingkunganya dengan mengenalkan seni budaya, wisata, pendidikan dan ketrampilan. Semoga pemuda mampu memainkan perannya sebagai katalis kemajuan ekonomi desa berikut juga sebagai perekat sosial budaya masyarakat desa. Dengan begitu niat menjadikan desa sebagai teras depan dan tidak lagi sebagai halaman belakang Negara, mungkin bisa terwujud.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *