Upaya Mahasiswa Melawan Fenomena Fitnah dan Hoax

Home / Berita / Upaya Mahasiswa Melawan Fenomena Fitnah dan Hoax

Di masa kini, orang–orang dapat dengan mudah mendapatkan informasi dan berita. Melalui media sosial dan lainnya, informasi dan berita akan cepat menyebar dan menjadi konsumsi khalayak. Karena informasi dan berita mudah di dapatkan dan ditemukan, maka munculah dampak positif dan negatif dari media sosial. Dampak positif dari media sosial cukup banyak. Seperti memudahkan kita dalam berkomunikasi jarak dekat maupun jauh. Dampak positif media sosial yang lain yaitu memudahkan dalam perekonomian. Karena dengan media sosial, kita dapat menjangkau kawasan yang luas.

Fenomena hoax dan fitnah di media sosial

Dampak negatif dari media sosial sendiri terjadinya fenomena hoax dan fitnah. Dengan cepatnya informasi dan berita yang disebarluaskan melalui media sosial cenderung akan mempengaruhi informasi yang akan di terima oleh masyarakat dan dapat amat sangat mempengaruhi opini, pikiran, dan emosi masyarakat. Dampak buruknya, akan timbul spekulasi dan pemahaman yang berbeda antara satu orang dan orang lainnya, yang dapat menyebabkan gerakan atau aksi-aksi yang memicu terjadinya kesenggangan antar masyarakat atau suatu badan organisasi. Dengan adanya hoax dan fitnah tentunya akan memicu rasa takut dan terancam. Bahkan dapat merusak reputasi dari pihak yang dirugikan karena adanya pemberitaan yang tidak benar tersebut.

CNN Indonesia menyebutkan bahwa dalam data yang dipaparkan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika menyebutkan ada sebanyak 800 ribu situs di Indonesia yang terindikasi sebagai penyebar berita palsu dan ujaran kebencian (hate speech) (Pratama/Binus University, 2016). Kemenkominfo juga selama tahun 2016 sudah memblokir 773 ribu situs berdasar pada 10 kelompok. Kesepuluh kelompok tersebut di antaranya mengandung unsur pornografi, SARA, penipuan/dagang ilegal, narkoba, perjudian, radikalisme, kekerasan anak, keamanan internet, dan Hak Kekayaan Intelektual (HKI).

Hoax adalah pemberitaan palsu atau bohong yang disebarluaskan oleh pihak tertentu demi kesenangan atau motif lainnya. Banyak orang percaya dengan hoax karena mereka hanya menerima berita tersebut tanpa memproses lebih dalam. Berbeda dengan hoax, fitnah adalah tuduhan atau perkataan bohong yang ditujukan untuk seseorang. Pada zaman sekarang, fitnah ditujukan untuk menjatuhkan orang lain dengan maksud tertentu.

Di era milenial ini, informasi dan berita hoax serta fitnah banyak ditemui. Orang-orang dengan mudahnya terpengaruh oleh pihak penyebar hoax dan fitnah dikarenakan kurangnya informasi dan fakta pendukungnya. Dibutuhkan juga peran pemerintah serta masyarakat dalam memilah dan memilih berita atau informasi yang benar.

Oleh karena masyarakat dari berbagai kalangan pun dengan mudah mengakses berita bohong tersebut. Tentu hal tersebut menjadi perhatian tersendiri, karena mudahya orang-orang berkomunikasi serta mengakses informasi menjadikan hoax dan fitnah sebagai salah satu masalah.

Mahasiswa sebagai agents of change memiliki peranan penting bagi kehidupan masyarakat dimasa yang akan datang. Maka dari itu mahasiswa perlu melakukan konservasi terhadap informasi yang di dapatkan. Informasi yang di dapatkan oleh mahasiswa haruslah merupakan informasi yang valid dan kebenarannya dapat di buktikan karena informasi yang di dapat oleh mahasiswa merupakan informasi yang akan diterima oleh masyarakat. Mahasiswa harus memanfaatkan freedom of speech secara bijak, agar apa yang disampaikan dapat diterima dan dicerna oleh masyarakat luas.

Penanggulan yang dilakukan oleh mahasiswa untuk menanggulangi berita hoax dan fitnah yaitu melakukan langkah selektif terhadap berita yang ia terima. Penanggulangan juga dilakukan dengan membuktikan kebenaran dari informasi tersebut dengan aplikasi hoax analyzer ataupun pencarian bukti secara ilmiah. Dapat juga dengan memblokir situs berita penyebar fitnah dan hoax dan memilih berita atau informasi yang baik dan benar sebelum mahasiswa menyebarluaskannya terhadap masyarakat. Mahasiswa dapat memberikan arahan kepada masyarakat untuk melihat segala sesuatu dari berbagai sudut pandang.

Hal ini juga sejalan dengan tri dharma universitas yang salah satunya bertujuan untuk memberikan pengajaran. Hal tersebut juga akan selaras jika masyarakat mampu mendapat pendidikan yang di dapat dari hasil penelitian yang di lakukan oleh mahasiswa. Selaras pula dengan tri dharma universitas yang ketiga, pengabdian terhadap masyarakat, dengan memberikan pengetahuan yang sesuai mengenai informasi yang benar terkait hoax dan fitnah yang beredar.

Saat ini mahasiswa dan masyarakat sedang menggagas program turn back hoax yang bertujuan untuk mengidentifikasi suatu berita dan informasi, lalu menyebarkan berita dan informasi yang benar melalui platform di media sosial. Oleh karenanya mahasiswa dituntut untuk berfikir secara kritis dan melihat segala sesuatu dari beberapa sudut pandang, bukan hanya dari satu sudut pandang saja. Itulah mengapa mahasiswa di sebut juga agen perubahan karena dari mahasiswalah reformasi dimulai. (Oleh: Putri Rahmania/Mahasiswi IT3 Telkom Purwokerto & Ahmad Zaki Yamani)

One Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *